Akademisi Jerman Bawa Perspektif Global untuk Kembangkan Kawasan Transmigrasi Rempang
Akademisi TUM Jerman dan Undip mengkaji pengembangan Rempang melalui konsep green growth, pemberdayaan masyarakat, dan kearifan lokal.

Singkatnya
Akademisi TUM Jerman dan Undip mengkaji pengembangan Rempang melalui konsep green growth, pemberdayaan masyarakat, dan kearifan lokal.
Batam – Pengembangan kawasan transmigrasi di Rempang, Batam, mulai mendapatkan perspektif dari akademisi internasional. Sebanyak 20 akademisi dari Technical University of Munich (TUM), Jerman, terlibat dalam Summer Course 2026 yang digelar Kementerian Transmigrasi bersama Universitas Diponegoro (Undip).
Program yang berlangsung selama 10 hari tersebut mengusung konsep pertumbuhan hijau atau green growth. Para akademisi dan mahasiswa TUM diajak melihat langsung kondisi sosial, ekonomi, serta lingkungan di kawasan transmigrasi Rempang Eco City.
Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan aksi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat di Tanjung Banon, Kecamatan Galang, Batam. Hasil pengamatan dan temuan para akademisi TUM nantinya diharapkan dapat menjadi bahan rekomendasi bagi pengembangan kebijakan kawasan transmigrasi Rempang Eco City.
Padukan Perspektif Global dan Kearifan Lokal
Melalui metode pembelajaran berbasis pengalaman, para peserta tidak hanya mempelajari teori perencanaan kawasan, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana kondisi masyarakat dan lingkungan di lapangan.
Pendekatan tersebut dinilai penting karena konsep perencanaan tata ruang yang berkembang secara global perlu disesuaikan dengan karakteristik serta kearifan lokal masyarakat.
Penanggung Jawab UNDIP Summer Course 2026, Prof. Dr.-Ing. Wiwandari Handayani, mengatakan kolaborasi antara akademisi Indonesia dan Jerman diharapkan dapat menghasilkan gagasan baru untuk pengembangan kawasan transmigrasi.
"Melalui kolaborasi ini, kita membawa global perspective ke kawasan transmigrasi untuk memahami pandangan dunia terhadap potensi wilayah ini. Kombinasi antara kearifan masyarakat lokal, akademisi nasional, serta jaringan penelitian internasional diharapkan melahirkan solusi yang lebih inovatif, adil, serta meningkatkan kepercayaan diri dalam memajukan kawasan transmigrasi," ujar Wiwandari, Senin 5 Oktober 2026.
Pada hari kelima kegiatan, para delegasi melakukan berbagai aktivitas bersama masyarakat di Tanjung Banon. Salah satunya dengan mengunjungi perajin lokal dan mengikuti praktik pembuatan batik ecoprint.
Para peserta melihat secara langsung proses pemanfaatan bahan-bahan alami untuk menghasilkan motif dan warna pada kain. Kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi delegasi untuk memahami potensi ekonomi kreatif berbasis lingkungan sekaligus mengenal budaya masyarakat setempat.
Kenalkan Budaya Jerman di Sekolah
Selain berinteraksi dengan masyarakat, delegasi TUM juga mengunjungi SMA Negeri 30 Batam yang berada di kawasan Rempang Eco City.
Dalam kunjungan tersebut, para akademisi dan mahasiswa memperkenalkan budaya Jerman kepada para siswa. Mereka juga berinteraksi dan bermain bersama sekaligus memberikan motivasi mengenai pendidikan dan peluang melanjutkan studi.
Delegasi TUM, Kim Lara, mengatakan kunjungan tersebut memberikan pengalaman langsung mengenai kehidupan masyarakat dan pendidikan di kawasan Rempang.
"Kami pergi ke toko batik dan belajar tentang budayanya, bagaimana mereka melukis segalanya, dan kami belajar tentang di mana mereka menjualnya dan apa yang ingin mereka lakukan dengannya. Dan kemudian kami pergi ke sekolah untuk belajar tentang anak-anak dan budayanya dan apa yang mungkin ingin mereka lakukan nanti dalam hidup," ujar Kim.
Kehadiran para mahasiswa dan akademisi dari Jerman juga mendapat respons positif dari siswa SMA Negeri 30 Batam.
Salah seorang siswa, Jenifer, mengaku senang dapat berinteraksi langsung dengan delegasi internasional tersebut.
"Seneng, mereka ramah terus baik, terus mereka sangat menarik. Membuat kesan ke aku mereka ramah-ramah ya terus super-super baik. Mereka bilang mau difasilitasi apa dan memberikan informasi tentang kuliah di Jerman," ujar Jenifer.
Empat Fokus Pengembangan Kawasan
Dalam program tersebut, para delegasi dibagi ke dalam empat bidang kajian. Fokus pertama adalah strategi pengembangan ekonomi, kemudian pengelolaan pertanahan dan lanskap, pengelolaan lingkungan dan ekologi, serta strategi pengembangan masyarakat dan sosial.
Keempat fokus tersebut diarahkan untuk melihat potensi pengembangan kawasan secara menyeluruh, dengan mempertimbangkan aspek ekonomi, lingkungan, tata ruang, dan kondisi sosial masyarakat.
Pengembangan kawasan transmigrasi yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat juga sejalan dengan paradigma baru transmigrasi yang disampaikan pemerintah. Kawasan transmigrasi tidak lagi semata-mata dipandang sebagai lokasi perpindahan penduduk, tetapi diarahkan menjadi kawasan yang mampu berkembang secara ekonomi dan menarik investasi.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman sebelumnya menegaskan bahwa setiap kawasan transmigrasi memiliki karakter dan keunggulan yang berbeda sehingga strategi pengembangannya perlu disesuaikan dengan potensi masing-masing wilayah.
"Setiap kawasan transmigrasi memiliki keunggulan yang berbeda. Ada yang kuat di sektor digital, ada yang potensial untuk industri maritim, energi, pertanian, maupun sektor lainnya. Pengembangannya harus mengikuti keunggulan masing-masing kawasan," ujar Iftitah pada 7 Juli 2026.
Kolaborasi Kementerian Transmigrasi, Undip, dan TUM di Rempang diharapkan dapat memperkuat pendekatan berbasis green growth sekaligus menghasilkan rekomendasi pengembangan kawasan yang memadukan inovasi global dengan potensi dan kearifan lokal.
Diunggah 7 Oktober 2026 pukul 05.50
