Live
Bisnis

Indonesia Bidik Posisi sebagai Rantai Pasok Global Baterai Kendaraan Listrik

Indonesia memperkuat hilirisasi nikel dan investasi baterai EV untuk membangun ekosistem kendaraan listrik serta menjadi rantai pasok global.

R

Redaksi

8 Oktober 2026 pukul 17.12

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani. (Foto: Bakom RI)
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani. (Foto: Bakom RI)

Singkatnya

Indonesia memperkuat hilirisasi nikel dan investasi baterai EV untuk membangun ekosistem kendaraan listrik serta menjadi rantai pasok global.

Halmahera Tengah – Indonesia terus memperkuat posisi sebagai salah satu pemain penting dalam industri kendaraan listrik dunia. Pemerintah menilai peningkatan investasi dan pembangunan ekosistem hilirisasi nikel menjadi modal utama untuk menjadikan Indonesia sebagai bagian penting dari rantai pasok global baterai kendaraan listrik (EV).

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani mengatakan, perkembangan industri nikel di Indonesia telah mendorong terbentuknya ekosistem yang semakin lengkap. Prosesnya tidak lagi hanya berfokus pada pengolahan bahan mentah, tetapi mulai mencakup berbagai komponen yang dibutuhkan industri baterai kendaraan listrik.

Menurut Rosan, dua kawasan industri yang menjadi pusat perkembangan tersebut adalah Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Halmahera Tengah, Maluku Utara, dan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Sulawesi Tengah.

"Selama ini ekspor yang terjadi dari kawasan ini (IWIP) kurang lebih USD 11 miliar. Kalau digabungkan dengan kawasan IMIP, total ekspornya mencapai USD 28 miliar atau 10 persen dari total ekspor Indonesia," kata Rosan dalam acara Groundbreaking dan Komersialisasi 11 Ekosistem Hilirisasi Nikel serta Ekspor Perdana Baterai Kendaraan Listrik di Kawasan Industri Weda Bay, Kamis 8 Oktober 2026.

Besarnya aktivitas industri di kedua kawasan tersebut juga terlihat dari kebutuhan dan kapasitas listrik yang tersedia. Di IWIP, kapasitas listrik terpasang telah mencapai lebih dari 7,1 gigawatt (GW), sementara kawasan Morowali mencapai sekitar 8,8 GW.

Rosan menyebut kapasitas tersebut bahkan lebih besar dibandingkan total penggunaan listrik Singapura yang berada di kisaran 13,1 GW.

"Jadi dua industri ini sudah lebih besar dari Singapura energi listriknya," ujarnya.

Ekosistem Baterai EV Semakin Lengkap

Rosan mengatakan perkembangan investasi tersebut menunjukkan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia mulai terbentuk secara menyeluruh. Pemerintah menargetkan berbagai tahapan produksi, mulai dari bahan baku hingga pengolahan komponen dan daur ulang baterai, dapat dilakukan di dalam negeri.

"Ini akan menjadikan the whole ecosystem ada di sini. Kita akan menjadi rantai pasok global baterai kendaraan listrik," tegas Rosan.

Ia menjelaskan, kebijakan hilirisasi nikel tidak berhenti pada peningkatan nilai tambah bahan tambang. Pemerintah ingin hilirisasi menjadi bagian dari proses industrialisasi yang menghasilkan produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi sekaligus membangun industri kendaraan listrik secara terintegrasi.

Kawasan Morowali, misalnya, akan dikembangkan agar memiliki ekosistem baterai kendaraan listrik yang mencakup hingga proses daur ulang.

"Dan tentunya hilirisasi ini ujungnya adalah industrialisasi. Di Morowali ini dengan proyek-proyek yang baru ini, ini akan menyebabkan kita mempunyai the whole ecosystem of EV battery sampai dengan recycle baterainya," kata Rosan.

Investasi Baru Capai USD 10,2 Miliar

Pada kesempatan tersebut, Rosan juga mengungkapkan nilai investasi baru yang masuk ke sejumlah proyek strategis di kawasan IWIP mencapai USD 10,2 miliar atau sekitar Rp180 triliun.

Investasi tersebut berasal dari berbagai negara dan melibatkan sejumlah perusahaan global yang bergerak dalam rantai industri nikel serta baterai kendaraan listrik.

Dari total investasi tersebut, empat proyek senilai USD 3,4 miliar atau sekitar Rp60 triliun telah menyelesaikan pembangunan dan memasuki tahap komersialisasi serta ekspor.

Sementara itu, enam proyek lainnya dengan nilai investasi mencapai USD 6,8 miliar atau sekitar Rp120 triliun mulai memasuki tahap pembangunan yang ditandai dengan seremoni peletakan batu pertama.

Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa hilirisasi nikel mulai diarahkan untuk membangun industri yang lebih terintegrasi. Pemerintah berharap penguatan investasi di sektor tersebut dapat memperbesar peran Indonesia dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik dunia.

Diunggah 8 Oktober 2026 pukul 17.12

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar