Israel Bersiap Hadapi Kemungkinan Operasi Militer terhadap Iran, dengan atau Tanpa AS
Israel dilaporkan bersiap menghadapi kemungkinan operasi militer terhadap Iran, sementara AS disebut menyiapkan tambahan pasukan dan pesawat ke kawasan.

Singkatnya
Israel dilaporkan bersiap menghadapi kemungkinan operasi militer terhadap Iran, sementara AS disebut menyiapkan tambahan pasukan dan pesawat ke kawasan.
Jakarta — Israel dilaporkan kembali mempersiapkan kemungkinan operasi militer terhadap Iran, baik dilakukan bersama Amerika Serikat maupun secara independen. Persiapan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Laporan media Israel yang dikutip Middle East Monitor, Selasa 6 Oktober 2026, menyebutkan militer Israel tengah menyiapkan berbagai kemungkinan menghadapi Iran, termasuk potensi serangan maupun respons jika Tehran lebih dahulu melancarkan serangan. Israel juga disebut tetap menjaga kerja sama intelijen dan operasional yang erat dengan militer Amerika Serikat.
Menurut laporan Israel Hayom, militer Israel mempersiapkan kemungkinan operasi terhadap Iran sekaligus meningkatkan kesiapan menghadapi situasi yang dapat berkembang dengan cepat.
Namun, laporan tersebut juga menyebut kemungkinan terjadinya serangan Israel atau Amerika Serikat sebelum pemilihan umum sela AS pada November dinilai relatif rendah.
Program nuklir Iran tetap menjadi salah satu perhatian utama Israel. Karena itu, militer Israel disebut terus mempertahankan kesiapan untuk menghadapi kemungkinan perkembangan baru terkait Tehran.
AS Disebut Siapkan Tambahan Pasukan
Di tengah persiapan Israel tersebut, laporan lain dari media Israel Walla menyebut Amerika Serikat berencana mengirim tambahan personel militer dan pesawat ke Israel dalam beberapa pekan mendatang.
Mengutip sumber keamanan yang tidak disebutkan namanya, Walla melaporkan sekitar 3.000 personel militer AS saat ini berada di berbagai lokasi di Israel. Mereka antara lain bertugas mengoperasikan sistem pertahanan udara, menjadi pilot, serta menjalankan fungsi dukungan, logistik, dan komando.
Tambahan personel dan pesawat tersebut disebut berkaitan dengan persiapan menghadapi kemungkinan eskalasi di Timur Tengah. Militer AS juga dilaporkan terus melakukan rotasi pasukan di kawasan tersebut.
Sementara itu, militer Israel disebut tetap melakukan koordinasi erat dengan Komando Pusat AS atau US Central Command (CENTCOM) untuk menghadapi kemungkinan memburuknya situasi keamanan.
Laporan mengenai penguatan kesiapan militer ini muncul ketika jalur diplomasi antara Washington dan Tehran masih menghadapi ketidakpastian.
Iran Masih Buka Jalur Diplomasi
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya menyatakan Tehran masih siap melanjutkan diplomasi untuk mencari solusi yang dinilainya adil.
Dalam pertemuan yang berlangsung di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB pada akhir September, Iran disebut menyampaikan sejumlah persyaratan kepada Amerika Serikat melalui mediator Qatar. Persyaratan tersebut berkaitan antara lain dengan pembukaan kembali Selat Hormuz dan isu-isu yang menjadi bagian dari ketegangan antara kedua negara.
Presiden AS Donald Trump kemudian menyatakan Washington tidak menerima persyaratan yang diajukan Iran.
Ketegangan juga berkaitan dengan situasi di sekitar Selat Hormuz. Iran pada 4 Oktober menyatakan jalur strategis tersebut belum akan dibuka kembali sampai sejumlah persyaratan yang diajukan Tehran terpenuhi.
Dengan kondisi tersebut, persiapan militer Israel dan rencana penguatan kehadiran militer AS menjadi perkembangan yang perlu diperhatikan. Meski demikian, laporan mengenai kemungkinan operasi militer baru tersebut belum berarti keputusan final untuk melancarkan serangan telah diambil.
Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada situasi keamanan di kawasan serta hasil upaya diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran.
Diunggah 6 Oktober 2026 pukul 05.38
