Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air, 1 Oktober 2026
BNPB melaporkan banjir, banjir bandang, karhutla, dan kebakaran TPA masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia hingga 30 September 2026.

Singkatnya
BNPB melaporkan banjir, banjir bandang, karhutla, dan kebakaran TPA masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia hingga 30 September 2026.
Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan perkembangan sejumlah bencana yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia hingga Rabu 30 September 2026. Banjir dan banjir bandang serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi kejadian yang mendapat perhatian.
Salah satu bencana terjadi di Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Banjir bandang yang melanda Nagari Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang, pada 21 September 2026 menyebabkan dua orang meninggal dunia, dua orang mengalami luka berat, dan 12 orang luka ringan.
Berdasarkan data terbaru, sekitar 542 warga masih mengungsi. Kerusakan juga tercatat pada 18 rumah rusak berat, 11 rumah rusak sedang, 41 rumah rusak ringan, empat rumah terendam dan tiga rumah terancam. Dua jembatan serta sejumlah fasilitas dan infrastruktur turut terdampak.
Sementara itu, banjir di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, yang terjadi pada 28 September dipicu hujan berintensitas tinggi dan kerusakan bagian tanggul Paya Bunder. Sekitar 305 kepala keluarga terdampak dan lima kepala keluarga sempat mengungsi secara mandiri.
Saat ini, banjir di tiga kecamatan telah surut. Warga mulai membersihkan material sisa banjir, sedangkan para pengungsi telah kembali ke rumah masing-masing.
Banjir juga melanda Kota Subulussalam, Aceh, setelah Sungai Tempuran meluap pada 29 September. Sekitar 20 kepala keluarga dan 20 rumah terdampak. Air berangsur surut, meski genangan masih ditemukan di sejumlah ruas jalan.
Karhutla Masih Ditangani
Penanganan karhutla masih berlangsung di beberapa provinsi. Di Kalimantan Barat, luas indikatif lahan terbakar hingga 28 September mencapai sekitar 38.310,86 hektare. Pada 29 September, tercatat tambahan sekitar 24,84 hektare lahan terbakar.
Dari luasan tersebut, sekitar 22,5 hektare berhasil dipadamkan dan masih tersisa sekitar 2,34 hektare yang akan ditangani dalam operasi berikutnya.
Di Jambi, dari 105,5 hektare lahan yang harus dipadamkan pada 29 September, sekitar 91,5 hektare telah berhasil ditangani. Masih terdapat sekitar 14 hektare pada dua titik api yang akan dilanjutkan penanganannya.
Sementara itu, di Kalimantan Tengah terdapat 157,3 hektare lahan yang harus dipadamkan pada 30 September dan tersebar di 43 titik api. Sebanyak 129,7 hektare berhasil dipadamkan melalui operasi darat dan udara. Sekitar 27,6 hektare di 10 titik api masih dalam penanganan.
Di Sumatera Selatan, sekitar 363,44 hektare lahan terbakar pada 29 September. Satgas Darat berhasil memadamkan sekitar 302,94 hektare, sedangkan operasi water bombing menangani sekitar 32 hektare. Dengan demikian, sekitar 334,94 hektare telah tertangani dan masih tersisa sekitar 28,5 hektare yang berasap.
Kebakaran TPA Jatibarang Masih Ditangani
Kebakaran lahan di TPA Jatibarang, Kota Semarang, Jawa Tengah, juga masih menjadi perhatian. Berdasarkan pemutakhiran hingga 30 September, api belum sepenuhnya padam dan pemadaman masih dilakukan tim gabungan.
Kebakaran tersebut merupakan kejadian ketiga di TPA Jatibarang. Luas lahan yang terbakar diperkirakan sekitar lima hektare, sementara penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan.
BNPB mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bencana hidrometeorologi, terutama banjir dan longsor. Kesiapsiagaan juga perlu ditingkatkan di wilayah yang masih menghadapi kondisi kering dan rawan karhutla.
Masyarakat diminta mengikuti informasi serta arahan dari BNPB, BPBD, BMKG, dan pemerintah daerah untuk mengantisipasi perkembangan situasi di masing-masing wilayah.
Diunggah 1 Oktober 2026 pukul 13.22
