Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air, Sabtu 10 Oktober 2026
BNPB mencatat karhutla di sejumlah daerah, termasuk kebakaran TPA Takome di Ternate yang masih terkendala asap, gas metana, dan peralatan.

Singkatnya
BNPB mencatat karhutla di sejumlah daerah, termasuk kebakaran TPA Takome di Ternate yang masih terkendala asap, gas metana, dan peralatan.
Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia dalam pemutakhiran situasi bencana periode 9–10 Oktober 2026. Kebakaran terjadi di Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Papua Tengah, dan Papua Barat Daya.
Selain karhutla, kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Takome, Kota Ternate, Maluku Utara, masih menjadi perhatian karena api belum berhasil dipadamkan sepenuhnya hingga Jumat (9/10). Asap kebakaran dilaporkan menyebar ke permukiman warga di sekitar Kelurahan Sulamadaha.
BNPB merangkum perkembangan tersebut berdasarkan laporan yang diperbarui hingga Sabtu (10/10/2026) pukul 07.00 WIB. Sejumlah titik kebakaran telah berhasil dipadamkan, tetapi beberapa wilayah masih menghadapi kendala dalam proses penanganan.
Kebakaran TPA Takome Belum Padam Sepenuhnya
Kebakaran di TPA Takome, Kelurahan Sulamadaha, Kecamatan Ternate Barat, terjadi pada Kamis (8/10). Luas area terdampak diperkirakan mencapai 11 hektare.
Hingga Jumat (9/10), petugas masih berupaya memadamkan api yang menjalar ke bagian dalam tumpukan sampah dengan ketinggian lebih dari lima meter. Kondisi tersebut menyulitkan proses pemadaman karena api tidak hanya berada di permukaan.
Penanganan juga terkendala angin kencang, asap yang bercampur gas metana, serta keterbatasan peralatan. Asap dari sampah yang terbakar telah menyebar hingga ke permukiman warga dan dikhawatirkan berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
BPBD Kota Ternate bersama TNI, Polri, pemadam kebakaran, Dinas Lingkungan Hidup, Basarnas, Dinas Kesehatan, PDAM, Dinas Pekerjaan Umum, dan unsur terkait lainnya terus melakukan penanganan. Petugas juga berupaya mencegah api merambat ke kawasan perkebunan dan permukiman.
Pemerintah Kota Ternate telah menetapkan status tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan pada 3–16 Oktober 2026. Dalam proses penanganan, pemerintah daerah masih memerlukan dukungan bahan bakar untuk operasional kendaraan serta peralatan pemadaman yang memadai.
Karhutla di Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah Masih Berlangsung
Di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, kebakaran hutan dan lahan melanda Dusun Wonosari dan Dusun Rama, Desa Buana Sakti, Kecamatan Tommo, sejak Minggu (4/10). Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 20 hektare.
Hingga Jumat (9/10), api belum berhasil dipadamkan. Asap masih menyelimuti lokasi kejadian dan meluas ke wilayah Desa Buana Sakti. Penyebab kebakaran masih belum diketahui dan memerlukan penyelidikan lebih lanjut.
BPBD Kabupaten Mamuju berkoordinasi dengan pemadam kebakaran, Manggala Agni, dan BPBD Provinsi Sulawesi Barat. Pemerintah daerah juga menggunakan alat berat untuk membuat parit guna memutus perambatan api di bawah permukaan lahan gambut.
Sementara itu, kebakaran di Gunung Sidoe, Desa Jono, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, menghanguskan sekitar lima hektare lahan.
Berdasarkan pemantauan pada Jumat (9/10), api masih terpantau di dua titik dengan asap mengepul di balik gunung. Jangkauan titik api diperkirakan mencapai 6–7 kilometer, sedangkan upaya pemadaman telah menjangkau sekitar tiga kilometer.
BPBD Kabupaten Sigi bersama pemerintah desa dan masyarakat terus melakukan asesmen serta pemadaman untuk mencegah kebakaran meluas.
Raja Ampat Catat Kebakaran 123,2 Hektare
Di Papua Barat Daya, kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Raja Ampat berlangsung pada 4–7 Oktober 2026. Luas area yang terbakar diperkirakan mencapai 123,2 hektare.
Wilayah terdampak meliputi Kelurahan Bonkawir, Waisai Kota, Warmasen, serta Kampung Sapoekren.
BPBD Kabupaten Raja Ampat bersama tim gabungan melakukan pelokalisiran titik api, penyemprotan, pemadaman manual, dan pemantauan setelah api padam.
Berdasarkan laporan terakhir pada Jumat (9/10), seluruh api berhasil dipadamkan. Situasi di wilayah terdampak dilaporkan aman dan kondusif, tanpa korban jiwa.
Adapun di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, kebakaran terjadi di sekitar Kampung Wanggar, Kecamatan Wanggar, Nabire Barat, pada Rabu (7/10). Luas lahan terbakar diperkirakan mencapai enam hektare.
Tim gabungan yang terdiri atas BPBD, TNI, Polri, dan instansi terkait masih melakukan pemadaman hingga Jumat (9/10). Pemerintah Kabupaten Nabire telah menetapkan status tanggap darurat untuk periode 4–17 Oktober 2026.
Kebakaran di Jawa, Bali, dan Bangka Belitung
Sejumlah kebakaran di wilayah lain dilaporkan telah berhasil dipadamkan.
Di Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung, kebakaran terjadi di Dusun Selindung, Desa Air Putih, Kecamatan Muntok, pada Kamis (8/10). Luas lahan terbakar mencapai sekitar delapan hektare. Api berhasil dipadamkan seluruhnya pada pukul 22.05 WIB dan tidak ada korban jiwa. Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan.
Di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, kebakaran hutan rakyat di Gunung Sekekep, Desa Tanjungsari, Kecamatan Jenangan, terjadi pada Kamis (8/10) pukul 17.40 WIB. Luas area terdampak diperkirakan lima hektare. BPBD setempat melakukan asesmen dan berkoordinasi dengan perangkat desa. Api dilaporkan telah padam.
Kebakaran juga terjadi di jalur pendakian Gunung Bungkuk, Desa Bungkuk, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan, pada hari yang sama. Sekitar tiga hektare lahan terbakar. Petugas menggunakan peralatan manual dan membuat sekat bakar untuk membatasi perambatan api. Kebakaran berhasil dipadamkan.
Di Bali, kebakaran melanda kawasan Taman Wisata Alam Gunung Batur Bukit Payang, Desa Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, sejak Selasa (6/10). Luas lahan terbakar diperkirakan mencapai 22,77 hektare. BPBD Kabupaten Bangli bersama unsur terkait melakukan penanganan hingga api dilaporkan padam pada Jumat (9/10).
BNPB Imbau Masyarakat Waspada Asap dan Titik Api
BNPB mengingatkan masyarakat agar tidak membakar lahan secara sembarangan maupun membakar sampah tanpa pengawasan. Warga juga diminta segera melaporkan temuan titik api atau indikasi kebakaran kepada petugas setempat.
Masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi kebakaran, terutama di wilayah terdampak asap, diimbau mengikuti arahan petugas dan mengurangi paparan asap. Jika kualitas udara terganggu, warga disarankan menggunakan masker yang sesuai serta membatasi aktivitas di luar ruangan.
Pemerintah daerah bersama BPBD dan unsur terkait diharapkan terus memperkuat pemantauan titik api, koordinasi, serta kesiapan personel dan peralatan untuk mencegah kebakaran meluas.
BNPB menegaskan bahwa keselamatan masyarakat dan petugas harus menjadi prioritas dalam setiap tahapan penanganan bencana. Informasi terbaru mengenai situasi kebencanaan dapat dipantau melalui kanal resmi BNPB dan BPBD setempat.
Laporan tersebut disampaikan oleh Berton SP Panjaitan, Ph.D., Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB. (Sumber: BNPB Indonesia)
Diunggah 10 Oktober 2026 pukul 20.42
