Live
Bisnis

Pertamina Sulap Panas Bumi Kamojang Jadi Energi untuk Petani Mandiri

Pertamina memanfaatkan panas bumi Kamojang untuk mengolah limbah menjadi pupuk GeO-Fert dan mendorong produktivitas serta kemandirian petani.

R

Redaksi

25 September 2026 pukul 06.58

Pertamina Manfaatkan Panas Bumi untuk Petani Kamojang. (Foto: Pertamina)
Pertamina Manfaatkan Panas Bumi untuk Petani Kamojang. (Foto: Pertamina)

Singkatnya

Pertamina memanfaatkan panas bumi Kamojang untuk mengolah limbah menjadi pupuk GeO-Fert dan mendorong produktivitas serta kemandirian petani.

Kamojang – PT Pertamina (Persero) terus mendorong pemanfaatan energi terbarukan agar memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Salah satunya dilakukan melalui Program Desa Energi Berdikari (DEB) di Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang mengintegrasikan energi panas bumi dengan kegiatan pertanian.

Dikutip dari siaran pers Pertamina, Jumat 25 September 2026, melalui PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Kamojang, Pertamina bersama Kelompok Tani Hutan (KTH) Cikondang mengembangkan inovasi GeO-Fert. Produk tersebut merupakan pupuk organik yang proses pengeringannya memanfaatkan excess steam atau uap berlebih dari sumber panas bumi.

Inovasi ini menjadi salah satu contoh pemanfaatan energi terbarukan yang tidak berhenti pada sektor kelistrikan, tetapi juga diarahkan untuk mendukung kegiatan produktif masyarakat, khususnya petani.

Kondisi geografis Kamojang yang memiliki suhu sejuk, curah hujan, dan tingkat kelembapan tinggi membuat proses pengeringan pupuk organik secara konvensional membutuhkan waktu hingga 14 hari. Dengan memanfaatkan panas bumi bersuhu sekitar 60–70 derajat Celsius, proses pengeringan GeO-Fert dapat dipersingkat menjadi sekitar 12 jam.

Pertamina Dorong Pertanian Berbasis Energi Terbarukan

Hingga 2026, inovasi tersebut telah memanfaatkan sekitar 600 ton limbah organik untuk menghasilkan 300 ton pupuk GeO-Fert. Pupuk itu telah digunakan pada sekitar 15 hektare lahan dan memberikan manfaat kepada sekitar 950 petani.

Pemanfaatan panas bumi juga memberikan dampak terhadap kegiatan pertanian di tingkat lapangan. Bagi petani, indikator keberhasilan program tidak hanya dilihat dari kemampuan memproduksi pupuk, tetapi juga dari hasil yang diperoleh setelah pupuk digunakan pada lahan.

Melalui kegiatan HAREPAN atau Panen Hasil Bumi dengan Pupuk GeO-Fert, petani berhasil memanen sekitar 15 ton kentang dan 40 ton kol. Pemanfaatan pupuk tersebut juga menghasilkan penghematan biaya hingga sekitar Rp82 juta.

Local Hero KTH Cikondang Hendro Gunawan mengatakan, pemanfaatan limbah menjadi pupuk memberikan manfaat yang lebih luas karena hasil akhirnya kembali digunakan untuk meningkatkan produktivitas lahan.

“Bagi kami, yang paling penting bukan hanya bisa membuat pupuk sendiri, tetapi bagaimana pupuk ini kembali ke tanah dan menghasilkan panen,” ujar Hendro.

Menurut dia, limbah yang sebelumnya dianggap kurang bernilai kini dapat dimanfaatkan menjadi input pertanian sekaligus memberikan manfaat bagi petani.

DEB Pertamina Dukung Ketahanan Pangan

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron mengatakan, program tersebut sejalan dengan upaya Pertamina dalam memperluas manfaat energi terbarukan bagi masyarakat.

“Petani adalah bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan. Melalui Desa Energi Berdikari, Pertamina berupaya menghadirkan energi terbarukan agar semakin dekat dengan kebutuhan produktif masyarakat,” ujar Baron.

Menurut Baron, pemanfaatan panas bumi di Kamojang menunjukkan bahwa energi terbarukan dapat dikembangkan untuk mendukung berbagai aktivitas produktif. Energi panas bumi yang selama ini dikenal sebagai sumber pembangkit listrik juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan lain, termasuk pengolahan pupuk dan mendukung aktivitas pertanian.

Konsep tersebut menciptakan rantai pemanfaatan sumber daya yang saling terhubung. Limbah organik diolah menjadi pupuk, panas bumi digunakan untuk mempercepat proses pengeringan, kemudian pupuk dimanfaatkan kembali di lahan pertanian hingga menghasilkan komoditas pangan.

Pertamina mengembangkan pendekatan serupa melalui Program Desa Energi Berdikari di berbagai daerah. Hingga 2026, Pertamina telah menjalankan 269 program DEB, dengan 166 program di antaranya berfokus pada ketahanan pangan.

Program DEB ketahanan pangan tersebut telah mendukung sekitar 2.091 hektare lahan pertanian dan menghasilkan panen mencapai 21.357 ton.

Melalui program tersebut, Pertamina tidak hanya mendorong penggunaan energi terbarukan, tetapi juga menghubungkannya dengan kebutuhan ekonomi dan produktivitas masyarakat.

Kisah GeO-Fert di Kamojang menjadi gambaran bagaimana energi panas bumi dapat dimanfaatkan lebih luas. Dari energi terbarukan, Pertamina mendorong pengolahan limbah menjadi pupuk, membantu petani meningkatkan produktivitas lahan, sekaligus mendukung ketersediaan pangan dan kemandirian masyarakat.

Diunggah 25 September 2026 pukul 06.58

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar