Biji Pala Papua Barat Diolah Jadi Hand Sanitizer, Buka Peluang Usaha Warga
Biji pala di Werianggi-Werabur, Papua Barat, diolah menjadi hand sanitizer. Inovasi TEP UI ini membuka peluang usaha dan meningkatkan nilai jual pala.

Singkatnya
Biji pala di Werianggi-Werabur, Papua Barat, diolah menjadi hand sanitizer. Inovasi TEP UI ini membuka peluang usaha dan meningkatkan nilai jual pala.
Papua Barat — Biji pala yang selama ini memiliki nilai jual terbatas mulai dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi oleh masyarakat kawasan transmigrasi Werianggi-Werabur, Papua Barat. Melalui pelatihan Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (TEP UI), warga diajarkan mengolah biji pala menjadi pembersih tangan atau hand sanitizer.
Dilansir dalam keterangan pers dari Kementerian Transmigrasi, Minggu 27 September 2026, inovasi tersebut memanfaatkan kandungan minyak atsiri dan senyawa aktif dalam biji pala yang berdasarkan kajian literatur memiliki potensi sebagai antiseptik. Namun, efektivitas kandungan tersebut masih dalam tahap pengujian laboratorium oleh tim untuk memastikan manfaatnya setelah melalui proses pengolahan.
Pelatihan berlangsung di Balai Isombani, Kampung Werianggi, Papua Barat, dan diikuti 20 perempuan yang tergabung dalam kelompok UMKM Ayawata. Pesertanya berasal dari masyarakat asli Papua maupun transmigran.
Salah seorang peserta, Mama Katerina Bieth, berharap keterampilan yang diperoleh tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan, tetapi dapat dikembangkan menjadi usaha yang memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat.
“Harapan kami, pelatihan dan ilmu dari Tim Ekspedisi Patriot UI tidak hanya berhenti sampai di sini saja, melainkan dikembangkan terus sampai menjadi peluang usaha yang dapat meningkatkan kesejahteraan warga Kampung Werianggi,” kata Katerina.
Diolah dengan Proses Sederhana
Pembuatan hand sanitizer berbahan biji pala dilakukan melalui sejumlah tahapan yang relatif sederhana. Biji pala terlebih dahulu dijemur selama lima hingga enam hari hingga benar-benar kering.
Setelah itu, biji ditumbuk sampai halus dan direndam menggunakan alkohol 70 persen dengan perbandingan 1:5 selama tiga hari. Campuran kemudian disaring hingga menghasilkan ekstrak yang selanjutnya dimasukkan ke dalam botol semprot.
Selain berpotensi menjadi produk ekonomi baru, inovasi tersebut juga dinilai relevan dengan kondisi masyarakat setempat. Ketersediaan air bersih yang masih terbatas membuat produk pembersih tangan dapat membantu mendukung kebutuhan sanitasi warga.
Anggota TEP UI, Fhira, mengatakan pemilihan biji pala sebagai bahan dasar berangkat dari sejumlah referensi ilmiah. Meski demikian, tim masih melakukan verifikasi melalui pengujian untuk mengetahui seberapa besar kandungan aktif tersebut tetap berfungsi setelah proses pencampuran.
“Kandungan itu kita lihat dari jurnal. Ternyata memang ada kandungannya untuk antiseptik. Cuma kita juga lagi meninjau lebih lanjut, setelah dicampur alkohol dan nonalkohol, apakah kandungan biji pala ini benar sebesar itu,” ujar Fhira.
Efektivitas Masih Diuji
Untuk memastikan efektivitas produk, tim melakukan pengujian laboratorium terhadap empat sampel. Sampel tersebut terdiri atas kelompok tanpa penggunaan hand sanitizer, hand sanitizer dari biji pala, hand sanitizer berbahan daging pala, serta air rendaman biji pala tanpa alkohol.
Hasil pengujian akan menjadi dasar untuk menentukan pengembangan produk selanjutnya. Setelah hasil laboratorium diperoleh, produk tersebut direncanakan diperkenalkan kepada sejumlah kepala daerah pada 1 Oktober 2026.
Langkah tersebut diharapkan menjadi tahap awal untuk memperluas pengenalan produk dan membuka peluang pemasaran di luar kawasan Werianggi-Werabur.
Pengembangan produk berbasis potensi lokal juga sejalan dengan gagasan penguatan ekonomi desa dan UMKM. Pemerintah menilai kekayaan sumber daya di daerah dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah apabila didukung keterampilan, teknologi, pengemasan, dan akses pasar.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono mengatakan kegiatan TEP menunjukkan bahwa pengetahuan dari perguruan tinggi dapat diterapkan untuk menjawab persoalan masyarakat.
“Kalian tidak hanya turun membawa penguasaan ilmu, tetapi juga solusi yang membumi,” ujar AHY saat audiensi dengan TEP di Jayapura, Kamis (17/9/2026).
Sementara itu, Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan pengembangan kawasan dapat dimulai dari pemanfaatan potensi sederhana yang tersedia di lingkungan masyarakat.
Menurutnya, potensi tersebut kemudian dapat diperkuat melalui peningkatan keterampilan, penggunaan teknologi, pengemasan produk, hingga perluasan akses pasar.
“Kita mulai dari langkah-langkah kecil, tetapi hasilnya harus terukur dan benar-benar dirasakan masyarakat,” kata Iftitah.
Pengolahan biji pala menjadi hand sanitizer menjadi salah satu contoh pemanfaatan komoditas lokal untuk menghasilkan produk baru. Jika hasil pengujian menunjukkan efektivitas yang sesuai dan pengembangan produk dapat dilanjutkan, inovasi ini berpotensi menjadi salah satu alternatif usaha bagi masyarakat Werianggi-Werabur.
Diunggah 27 September 2026 pukul 14.29
