Rumah Bibit Tangguh Iklim Jadi Harapan Baru Petani Transmigran di Papua Barat Daya
TEP IV Universitas Brawijaya membangun Rumah Bibit Tangguh Iklim di Klawosom, Sorong, untuk mengembangkan hampir 3.000 bibit dan memperkuat agroforestri masyara

Singkatnya
TEP IV Universitas Brawijaya membangun Rumah Bibit Tangguh Iklim di Klawosom, Sorong, untuk mengembangkan hampir 3.000 bibit dan memperkuat agroforestri masyara
Sorong – Masyarakat Kampung Persiapan Klawosom, Kawasan Transmigrasi Klamono–Segun, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, kini memiliki fasilitas pembibitan tanaman yang lebih memadai. Melalui pembangunan Rumah Bibit Tangguh Iklim, hampir 3.000 bibit tanaman buah-buahan dan tanaman kayu dikembangkan untuk mendukung pertanian produktif sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Program tersebut merupakan inisiatif Tim Ekspedisi Patriot (TEP) IV Universitas Brawijaya (UB) dalam menjawab kebutuhan masyarakat setempat, terutama terkait pengembangan pembibitan dan penerapan sistem agroforestri.
Kehadiran fasilitas ini mendapat sambutan positif dari warga transmigran. Lorentius G. Ile Kolin mengungkapkan bahwa program tersebut memberikan pengalaman dan pengetahuan baru bagi masyarakat, khususnya dalam teknik pembibitan dan pengaturan jarak tanam.
“Sejak ada program Tim Patriot, kami baru mengenal pembibitan seperti ini. Kami juga belajar bahwa jarak tanam perlu diatur dalam sistem agroforestri. Kami sangat merasakan manfaat program ini dan berharap tim dapat kembali lagi,” ujarnya saat mengikuti pelatihan teknik grafting bibit unggul pada 19 September 2026.
Rumah bibit atau nursery tersebut dilengkapi berbagai sarana pendukung, mulai dari tiga tangki air berkapasitas total 3.350 liter, sistem pengairan, rumah produksi, gudang penyimpanan, mesin pencacah, hingga tiga tong produksi biochar. Berbagai peralatan tersebut disediakan untuk memastikan aktivitas pembibitan dapat terus berjalan secara mandiri setelah pendampingan tim selesai.
Tidak hanya menyediakan fasilitas, TEP IV UB juga membekali masyarakat dengan keterampilan praktis. Pelatihan yang diberikan mencakup pengolahan media tanam, perbanyakan tanaman melalui teknik grafting atau sambung pucuk, pembuatan kompos berbahan lokal, serta produksi biochar untuk meningkatkan kualitas tanah.
Demi menjaga keberlanjutan kegiatan, tim turut membentuk dua kelompok tani, yakni Kuk Mala Fai Tunas Muda dan Olom Fagu, serta Kelompok Wanita Tani (KWT) Sinagi. Ketiga kelompok tersebut dipersiapkan menjadi pengelola rumah bibit sekaligus penggerak pengembangan agroforestri di lingkungan masyarakat.
Program ini menjangkau lebih dari 600 kepala keluarga, termasuk 60 anggota kelompok tani dan KWT. Pengiriman bibit telah dimulai sejak 7 Oktober 2026, sedangkan pendampingan dan pengembangan kegiatan berlangsung hingga tim ditarik pada akhir November 2026.
Ketua TEP IV UB, Syamsul Arifin, berharap program tersebut tidak berhenti setelah masa pendampingan berakhir. Menurutnya, penerapan agroforestri intensif perlu terus dikembangkan dengan menyesuaikan kebiasaan dan karakteristik pertanian masyarakat Klawosom.
“Besar harapan kami program ini terus berlanjut melalui penerapan sistem agroforestri intensif yang sesuai dengan pola bertani masyarakat Klawosom,” katanya pada 27 Oktober 2026.
Pengembangan rumah bibit ini juga mendukung arahan Presiden Prabowo Subianto mengenai pentingnya memperbanyak pusat pembibitan pohon di berbagai daerah. Dalam peresmian akad massal rumah subsidi dan KUR Perumahan di Batang pada 30 Juli 2026, Prabowo meminta agar pusat pembibitan diperluas untuk memenuhi kebutuhan benih berkualitas di seluruh Indonesia.
“Bikin nursery-nursery, saya butuh benih-benih pohon yang bagus untuk semua kota dan kabupaten kita,” ujar Prabowo.
Dukungan terhadap pembangunan berkelanjutan juga disampaikan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan AHY. Dalam Lestari Summit 2026 pada 22 Juli 2026, ia menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga lingkungan.
“Prosperity saja tidak cukup, harus diimbangi dengan sustainability,” ungkapnya.
Sementara itu, Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menekankan bahwa pemberdayaan masyarakat harus menjadi bagian utama dalam pembangunan kawasan transmigrasi. Transfer pengetahuan dan teknologi dinilai lebih penting untuk menciptakan kemandirian masyarakat dalam jangka panjang.
“Kata kuncinya adalah pemberdayaan dan keberdayaan, yang jauh lebih penting daripada bantuan yang sifatnya instan,” ujarnya saat mengunjungi Kawasan Transmigrasi Klamono–Segun pada 31 Oktober 2026.
Dengan tersedianya fasilitas pembibitan, peningkatan keterampilan warga, serta kelompok pengelola yang telah terbentuk, masyarakat Klawosom diharapkan mampu melanjutkan program secara mandiri. Inisiatif ini sekaligus membuka peluang pengembangan pertanian yang lebih produktif, berkelanjutan, dan selaras dengan kelestarian lingkungan.
Diunggah 7 November 2026 pukul 07.58
