Live
Bisnis

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,47 Persen, Konsumsi dan Investasi Jadi Penopang Utama

Ekonomi Indonesia tumbuh 5,47 persen pada triwulan III 2026. Konsumsi, investasi, ekspor, dan industri pengolahan menjadi penopang.

R

Redaksi

6 November 2026 pukul 12.22

Menteri Keuangan Suahasil Nazara. (Source: Info Publik)
Menteri Keuangan Suahasil Nazara. (Source: Info Publik)

Singkatnya

Ekonomi Indonesia tumbuh 5,47 persen pada triwulan III 2026. Konsumsi, investasi, ekspor, dan industri pengolahan menjadi penopang.

Jakarta – Perekonomian Indonesia mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,47 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan III 2026. Capaian tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga, peningkatan investasi, kinerja ekspor, serta optimalisasi belanja pemerintah.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) memiliki peran penting dalam menjaga daya beli masyarakat, mendukung aktivitas dunia usaha, serta meredam dampak tekanan ekonomi global.

"APBN berperan penting dalam menjaga daya beli masyarakat, mendukung aktivitas dunia usaha, dan meredam dampak tekanan eksternal. Pemerintah akan terus mengoptimalkan APBN untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi," ujar Suahasil dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (6/11/2026).

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,04 persen. Peningkatan tersebut didukung daya beli masyarakat yang terjaga, mobilitas yang meningkat, serta kuatnya permintaan domestik.

Pengeluaran masyarakat untuk restoran dan hotel meningkat 6,59 persen, sedangkan konsumsi transportasi dan komunikasi tumbuh 5,83 persen. Aktivitas konsumsi juga tercermin dari peningkatan penjualan eceran, transaksi uang elektronik, serta penggunaan kartu debit dan kredit.

Konsumsi pemerintah turut mencatatkan pertumbuhan tinggi sebesar 8,95 persen. Kinerja ini terutama didorong belanja barang yang meningkat 39,7 persen dan belanja pegawai sebesar 10,3 persen.

Dari sisi investasi, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,06 persen. Penanaman modal asing bahkan meningkat 27,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Investasi bangunan tumbuh 6,39 persen, didukung pembangunan infrastruktur dan sejumlah program prioritas pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis, Sekolah Rakyat, serta sektor perumahan. Sementara itu, investasi kendaraan meningkat 12,96 persen.

Pada sektor perdagangan luar negeri, ekspor barang dan jasa tumbuh 4,59 persen. Peningkatan ekspor terutama ditopang komoditas crude palm oil (CPO), batu bara, serta produk hilirisasi bernilai tambah seperti nikel, tembaga, dan aluminium.

Adapun impor barang dan jasa meningkat 7,31 persen. Kenaikan tersebut mencerminkan kebutuhan bahan baku, barang modal, dan barang konsumsi untuk mendukung aktivitas produksi serta ekspansi industri dalam negeri.

Industri Pengolahan Jadi Motor Pertumbuhan

Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi dengan mencatatkan kenaikan 5,87 persen.

Sejumlah subsektor berbasis hilirisasi menunjukkan kinerja positif. Industri makanan dan minuman tumbuh 7,09 persen, industri kimia, farmasi, dan obat tradisional meningkat 8,10 persen, sedangkan industri logam dasar mencatatkan pertumbuhan 9,94 persen.

Sektor konstruksi juga tumbuh 6,42 persen, ditopang pembangunan infrastruktur dan berbagai program prioritas pemerintah. Sementara itu, sektor perdagangan meningkat 7,14 persen seiring terjaganya permintaan domestik.

Penjualan mobil penumpang tercatat meningkat 25,95 persen, sedangkan penjualan sepeda motor tumbuh 8,92 persen.

Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum bahkan mencatatkan pertumbuhan 11,2 persen, didukung peningkatan perjalanan wisatawan nusantara sebesar 7,05 persen.

Sektor informasi dan komunikasi turut mencatatkan pertumbuhan 7,13 persen. Peningkatan penggunaan layanan telekomunikasi, trafik data, serta transaksi perdagangan elektronik menjadi faktor pendukung perkembangan sektor tersebut.

Meski demikian, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mengalami perlambatan pertumbuhan menjadi 0,46 persen. Kondisi ini dipengaruhi fenomena musim kering berkepanjangan atau El Nino yang menyebabkan kontraksi pada subsektor tanaman pangan sebesar 1,58 persen dan perkebunan 0,13 persen.

Di sisi lain, sektor pertambangan dan penggalian kembali tumbuh positif sebesar 0,91 persen setelah mengalami kontraksi selama empat triwulan berturut-turut.

Capaian tersebut memperlihatkan bahwa konsumsi domestik, investasi, ekspor, dan aktivitas industri masih menjadi fondasi penting pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah meningkatnya risiko global.

Diunggah 6 November 2026 pukul 12.22

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar