Prabowo Ungkap Transformasi Pangan Indonesia di KTT BRICS: Dari Impor Jadi Eksportir
Prabowo mengungkap transformasi pangan Indonesia di KTT BRICS 2026. RI yang dulu banyak mengimpor kini mulai mampu mengekspor komoditas pangan.

Singkatnya
Prabowo mengungkap transformasi pangan Indonesia di KTT BRICS 2026. RI yang dulu banyak mengimpor kini mulai mampu mengekspor komoditas pangan.
New Delhi, 13 September 2026 – Presiden RI Prabowo Subianto mengungkap perkembangan sektor pangan Indonesia dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 yang berlangsung di Bharat Mandapam, New Delhi, India, Minggu (13/9/2026).
Dalam forum yang mengangkat tema “Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability: Shaping the Future for Inclusive Global Growth”, Prabowo menyampaikan bahwa Indonesia tengah mengalami perubahan penting dalam sektor pangan. Setelah selama bertahun-tahun bergantung pada impor sejumlah komoditas, Indonesia kini mulai mampu menjadi negara pengekspor.
Perubahan tersebut disampaikan Prabowo di hadapan para pemimpin negara anggota BRICS. Menurutnya, perkembangan sektor pangan nasional menjadi bagian penting dari upaya memperkuat ketahanan Indonesia sekaligus meningkatkan kontribusi negara terhadap kebutuhan pangan dunia.
Indonesia Mulai Tinggalkan Ketergantungan Impor
Prabowo mengatakan, Indonesia sebelumnya menjadi salah satu negara dengan ketergantungan impor yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan sejumlah komoditas pangan.
“Selama bertahun-tahun, Indonesia merupakan salah satu negara pengimpor terbesar untuk komoditas pangan seperti gandum, beras, dan jagung,” ujar Prabowo.
Namun, kondisi tersebut mulai berubah seiring dengan penguatan kapasitas produksi pangan di dalam negeri. Indonesia, kata Prabowo, tidak hanya berupaya memenuhi kebutuhan masyarakatnya sendiri, tetapi juga memiliki target untuk memberikan kontribusi lebih besar terhadap ketersediaan pangan dunia.
“Kini, kita telah menjadi negara pengekspor dan ke depan kita akan mampu meningkatkan kontribusi serta dukungan bagi dunia,” lanjutnya.
Transformasi ini dinilai memiliki arti strategis bagi Indonesia. Selain memperkuat ketahanan pangan nasional, peningkatan kapasitas produksi juga dapat membuka peluang ekonomi yang lebih luas melalui perdagangan komoditas pangan di pasar internasional.
Pangan Jadi Peluang dalam Rantai Nilai Global
Prabowo menilai perubahan posisi Indonesia dari negara pengimpor menjadi negara yang mulai mengekspor dapat menjadi momentum untuk memperkuat keterlibatan Indonesia dalam rantai nilai global.
Menurutnya, sektor pangan dan perdagangan komoditas biji-bijian tidak semata-mata berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan domestik. Jika dikelola dan dikembangkan secara optimal, sektor tersebut juga dapat menjadi sumber peluang baru bagi perekonomian nasional.
“Ini dapat menjadikan sektor pangan dan perdagangan komoditas biji-bijian sebagai sebuah peluang, sekaligus memperkuat posisi kita dalam rantai nilai global,” kata Prabowo.
Peningkatan peran tersebut sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk membangun sektor pangan yang semakin tangguh dan mampu menghadapi berbagai dinamika perdagangan global.
Bagi Indonesia, penguatan produksi pangan juga menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan kemandirian sekaligus membuka ruang kerja sama yang lebih luas dengan negara-negara lain.
Prabowo Dorong Konektivitas Rantai Pasok BRICS
Dalam forum KTT BRICS, Prabowo juga menyoroti pentingnya membangun konektivitas rantai pasok di antara negara-negara anggota.
Ia menilai negara-negara BRICS sesungguhnya telah memiliki sumber daya, kapasitas produksi, serta jaringan rantai pasok yang besar. Tantangan berikutnya adalah bagaimana seluruh kekuatan tersebut dapat saling terhubung dan dimanfaatkan secara optimal.
Menurut Prabowo, konektivitas tersebut dapat menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi negara-negara anggota BRICS. Kerja sama yang lebih terintegrasi juga dinilai dapat memperkuat daya tahan ekonomi negara-negara yang tergabung dalam kelompok tersebut.
“Tugas kita adalah menghubungkan dan mengoptimalkannya, sehingga kekuatan yang sudah kita miliki ini dapat menghasilkan nilai yang lebih besar bagi kita semua,” ujarnya.
Gagasan tersebut menunjukkan bahwa Prabowo mendorong BRICS tidak hanya menjadi forum dialog antarnegara, tetapi juga menghasilkan bentuk kerja sama yang lebih konkret di bidang ekonomi dan industri.
Tawarkan Industrialisasi Bersama
Untuk memperkuat rantai pasok dan meningkatkan nilai tambah sumber daya, Prabowo menawarkan gagasan industrialisasi bersama di antara negara-negara BRICS.
Ia mengajak negara anggota untuk tidak berhenti pada perdagangan komoditas mentah, tetapi mulai mengoptimalkan sumber daya dan kapasitas yang dimiliki secara bersama-sama melalui pengembangan industri.
“Karena itu, izinkan saya menawarkan sesuatu yang konkret. Mari kita melakukan industrialisasi bersama. Mari kita mengoptimalkan sumber daya dan kapasitas yang kita miliki bersama,” kata Prabowo.
Menurut gagasan tersebut, kerja sama industrialisasi dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan nilai ekonomi dari sumber daya yang dimiliki masing-masing negara. Integrasi kapasitas produksi juga berpotensi memperkuat posisi negara-negara BRICS dalam menghadapi persaingan ekonomi global.
Bagi Indonesia, pengalaman memperkuat sektor pangan menjadi salah satu contoh transformasi yang dapat menjadi modal untuk meningkatkan peran dalam kerja sama ekonomi internasional.
Pesan Prabowo dalam KTT BRICS 2026 menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak hanya dipandang sebagai persoalan domestik. Dengan kapasitas produksi yang semakin kuat, Indonesia ingin mengambil bagian lebih besar dalam perdagangan pangan sekaligus membangun kerja sama yang memberikan manfaat bersama bagi negara-negara BRICS.
Diunggah 13 September 2026 pukul 14.45
